www.idrbizz.com

Tak Pernah Pakai Masker, Korban Corona Covid-19 di Amerika Melesat

Diposting pada

Warga Amerika Serikat (AS) yang enggan menggunakan masker ditengarai jadi salah satu penyebab tingginya jumlah korban virus Corona Covid-19 di negara adidaya itu. Di negara tersebut, menggunakan masker dianggap sebagai hal yang ganjil dan malah membuat orang lain takut.

Time menulis, seorang peneliti bernama Cheryl Man selalu menggunakan masker sendirian ketika berada di tempat publik. Bahkan ketika berada di MRT, dia melihat tidak ada satupun orang Amerika yang menggunakan masker. Justru orang-orang yang melihatnya aneh dan ganjil.

Begitu juga ketika berada di tempat kerja. Saat dia menggunakan masker, orang-orang malah curiga dan bertanya “Apa kamu sakit?” Padahal kasus positif Covid-19 di Amerika Serikat tertinggi di dunia yakni mencapai 803.528 orang pada akhir Maret 2020. Sedangkan jumlah korban meninggal sebanyak 3.017 orang.

Para ahli menyebut, penggunaan masker wajah memang tidak sepenuhnya bisa mecegah orang terkena virus Covid-19, tapi setidaknya bisa mengurangi penyebaran virus. Sebab, penularan virus Covid-19 bisa terjadi lewat air liur yang keluar saat seseorang bersin, batuk atau tengah berbicara.

Respons masyarakat terhadap Covid-19 tentu berbeda antara Amerika dengan Indonesia. Jauh-jauh hari sebelum ada warga yang positif Corona di Indonesia, orang-orang sudah waspada. Harga masker N95 sudah hilang dari pasaran. Jika pun ada harganya sudah melambung dari harga normal Rp 30 ribu naik menjadi Rp 300 ribu hingga Rp 450 ribu per box.

www.idrbizz.com
Penggunaan masker untuk cegah Covid-19. Sumber: Unsplash

Apalagi setelah dikonfirmasi banyak kasus Corona Covid-19 di Indonesia, orang-orang makin parno. Bukan hanya di perkotaan, tapi hingga ke pelosok desa orang-orang bepergian dengan menggunakan masker. Ketika diimbau oleh pemerintah untuk tinggal di rumah. Masyarakat desa justru lebih patuh dan tidak kemana-mana. Hal ini justru berbeda dengan di daerah perkotaan di mana banyak warga tetap bekerja dan beraktivitas di luar rumah seperti biasanya.

Sedangkan budaya orang Amerika mungkin berbeda. Mereka sudah terbiasa hidup dengan rasionalitas dan penuh kebebasan dalam berpikir dan bertindak. Himbauan atau aturan mungkin tidak akan mempan lagi.

Hampir mirip juga dengan kehidupan di kota besar Indonesia, yang justru banyak orang yang beraktivitas normal seolah tidak terjadi apa-apa. Sedangkan di desa-desa melakukan local lockdown. Warga perantau dilarang pulang. Apalagi pendatang, haram memasuki wilayah mereka. Sekilas terlalu parno, tapi jika dipikir-pikir banyak baiknya juga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *