http://idrbizz.com/2019/04/persaingan-bisnis-fintech-versus-koperasi-simpan-pinjam.html

Persaingan Bisnis Fintech Versus Koperasi Simpan Pinjam

Diposting pada


Dalam beberapa tahun terakhir, industri keuangan diramaikan dengan kehadiran financial technology (fintech) peer to peer lending. Ini merupakan industri baru di Tanah Air yang memanfaatkan kecanggihan teknologi untuk memberikan layanan pinjaman kepada masyarakat. Kehadiran industri fintech tentu memberikan tantangan tersendiri bagi keberadaan koperasi simpan pinjam (KSP) yang sudah lebih dulu eksis.

Sebelum fintech hadir dan menawarkan jasa keuangan kepada masyarakat, kita sudah lebih dulu akrab dengan koperasi simpan pinjam. Koperasi ini berdiri di hampir semua sendi masyarakat dari kota hingga ke desa. Di tingkat desa ada Koperasi Unit Desa (KUD). Bahkan di tingkat RT, cukup banyak yang mendirikan koperasi sendiri meskipun tidak memiliki izin resmi. Hampir semua instansi, lembaga dan perusahaan besar juga memiliki koperasi sendiri.

Loading...

Singkatnya, orang yang membutuhkan dana talangan dalam waktu cepat bisa mendapatkannya dari lingkungan terdekat baik di lingkungan tempat tinggal maupun lingkungan kerja. Kendati begitu tetap ada prosedur dan administrasi tertentu yang harus dipenuhi ketika seseorang akan meminjam uang dari koperasi simpan pinjam. Jumlah uang yang dipinjam juga mungkin dibatasi oleh jumlah dana yang dikelola koperasi, jumlah tabungan peminjam dan lain-lain.

Sedangkan, fintech memberikan berbagai kemudahan dan kenyamanan orang untuk meminjam uang. Hanya dengan ponsel, seseorang yang memenuhi syarat bisa mengajukan pinjaman dari perusahaan fintech. Persoalan administrasi juga bisa dilakukan secara online tanpa harus ada tatap muka terlebih dahulu dengan si peminjam.

Dengan berbagai alasan, kehadiran fintech menghadirkan persaingan baru dalam berebut nasabah bagi koperasi simpan pinjam. Apalagi untuk generasi milenial dan melek internet, layanan fintech mungkin lebih dikenal oleh mereka ketimbang koperasi simpan pinjam. Ke depan bukan tidak mungkin, koperasi simpan pinjam akan tergusur oleh keberadaan fintech yang bertebaran di mana-mana. Hingga awal April 2019, jumlah perusahaan fintech yang terdaftar resmi di Otoritas Jasa Keuangan sebanyak 309 perusahaan.

Meskipun, koperasi dan fintech pada hakekatnya adalah dua lembaga yang berbeda satu sama lain. Koperasi adalah badan usaha yang dibentuk dan dikelola oleh anggota secara bersama-sama. Azas yang dianut adalah kekeluargaan dan gotong royong jadi bukan lembaga dengan tujuan mencari keuntungan sebanyak-banyaknya.

Kendati begitu di lapangan, kita banyak menemui lintah darat atau rentenir yang menggunakan nama koperasi simpan pinjam (pengecualian). Mereka memanfaatkan celah dari mudahnya aturan pembuatan koperasi. Tapi dengan melihat bunga pinjaman selangit yang ditawarkan, pada dasarnya mereka adalah lintah darat yang berkedok koperasi.

Koperasi sejatinya dibentuk oleh anggota dan untuk kesejahteraan anggota. Dana yang dipinjamkan kepada para anggota berasal dari akumulasi iuran para anggota. Ada juga koperasi yang mendapatkan pendanaan dari lembaga keuangan lain seperti perbankan namun dengan bunga yang rendah. Dana tersebut kemudian dipinjamkan lagi kepada anggota koperasi dengan bunga tertentu sesuai kesepakatan.

Setiap tahun, koperasi akan menggelar rapat anggota tahunan (RAT). Dalam rapat itu, koperasi akan membagikan sisa hasil usaha (SHU) kepada para anggota, termasuk mereka yang meminjam. Dengan demikian, meskipun membayar bunga pinjaman, anggota koperasi tetap mendapatkan keuntungan dari SHU yang diperoleh.

Hal ini berbeda dengan fintech peer to peer lending. Lembaga keuangan ini menghubungkan antar peminjam dan pemberi pinjaman. Sebuah perusahaan fintech akan mencari orang-orang yang membutuhkan pinjaman uang. Lalu, perusahaan fintech juga mencarikan para pemberi pinjaman atau investor.

Bunga yang dibayarkan oleh peminjam tentu saja menjadi keuntungan dari pemberi pinjaman dan perusahaan fitech yang mengelola dana. Ini yang membedakan fintech dengan koperasi, di mana fintech tidak membagikan sisa hasil usaha kepada anggota.

Pun demikian dengan perusahaan fintech. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) yang bertindak sebagai regulator tidak memberikan batasan maksimal bunga yang bisa diberikan oleh sebuah perusahaan fintech. Ujung-ujungnya, cukup banyak ditemui keberadaan fintech yang memberikan pinjaman dengan bunga sangat besar tak ubahnya rentenir.

Dengan demikian, baik fintech maupun koperasi simpan pinjam masing-masing memiliki kelebihan dan kekurangan. Dengan dukungan teknologi, orang lebih mudah mengakses pinjaman fintech. Namun di daerah-daerah terpencil, masih banyak masyarakat yang tidak familiar dengan internet.

Perusahaan fintech juga belum menjangkau sampai ke daerah terpencil. Di wilayah tersebut, koperasi simpan pinjam masih berpotensi tumbuh. Apalagi, koperasi simpan pinjam memungkinkan komunikasi antara peminjam (anggota koperasi) dengan pengelola koperasi yang lebih baik.

Keberadaan fintech yang marak mungkin akan menggerus pasar koperasi simpan pinjam. Tapi bukan berarti koperasi simpan pinjam akan mati. Dengan filosofi kekeluargaan yang diusung, koperasi simpan pinjam masih akan tetap eksis.

Loading...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *