Tiga Pilihan Investasi Dengan Profit Lebih Besar dari Deposito

Diposting pada

IDRbizz.com | Pada masa lalu, orang tua kita selalu menyarankan kita untuk menabung uang sedikit demi sedikit agar lama-lama menjadi bukit. Tapi seiring perkembangan zaman, menambung bukanlah satu-satunya cara untuk menyimpan uang. Sebaliknya ada banyak cara lain kita menyimpan uang dengan mendapatkan imbal hasil yang bisa jauh lebih besar.

Instrumen lain selain tabungan yang paling familiar di masyarakat adalah deposito. Prinsipnya hampir sama dengan menabung, tapi dana tidak bisa diambil sebelum jatuh tempo. Sedangkan bunga deposito yang diperoleh akan lebih besar daripada tabungan biasa.

Sebagai gambaran saja, saat ini Bank Indonesia 7-day reverse repo rate sebesar 5,75%. Jadi bunga deposito ada di kisaran tersebut. Jangan membayangkan bunga tersebut akan diterima dalam tempo 1 bulan. Tidak. Bunga di kisaran 5,75% tersebut akan diberikan selama 1 tahun. Selain itu ada potongan pajak sebesar 20% dari keuntungan deposito.

Jadi bisa dibayangkan, jika Anda menyimpan uang Rp 10 juta di deposito, maka bunga yang akan diperoleh per tahun sekitar Rp 575.000. Lalu setelah dipotong pajak 20%, imbal hasil yang diperoleh sekitar Rp 460.000 dalam setahun.

Keuntungan berinvestasi di deposito adalah likuiditas yang terjamin. Jadi Anda bisa dengan mudah mencairkan dana tersebut jika suatu saat membutuhkannya. Investasi ini meskipun imbal hasilnya tidak besar tapi cocok bagi mereka yang konservatif karena risikonya kecil.

Jika ingin mendapatkan imbal hasil yang lebih besar, kita harus menempatkan dana di instrumen lain. Semakin besar potensi imbal hasil yang diperoleh akan semakin besar pula risikonya. Jadi Anda harus benar-benar mempertimbangkan risiko ketika akan berinvestasi. Sesuaikan dengan karakter Anda, apakah seorang agresif, moderat atau konservatif.

Berikut ini, tiga pilihan investasi yang bisa memberikan imbal hasil lebih tinggi dari deposito:

Saham

Investasi saham bisa memberikan keuntungan yang jauh lebih besar dari deposito. Pergerakan harga saham-saham yang diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia sangat fluktuatif. Jika Anda termasuk orang yang berani mengambil risiko tinggi Anda bisa memanfaatkan peluang meraih gain dari kenaikan atau penurunan harga saham.

Bagi seorang trader, semakin fluktuatif harga akan semakin menarik karena peluang mendapatkan keuntungan bisa semakin besar. Tapi sebanding juga dengan risikonya, penurunan harga saham yang sangat cepat juga bisa memberikan risiko kerugian yang besar pula.

Untuk itu, jika ingin menjadi seorang trader saham, Anda harus memiliki pengetahuan dan skill yang cukup terlebih dahulu. Tanpa bekal ilmu yang cukup soal saham, Anda hanya akan merugi jika melakukan trading. Trading saham hanya bersifat jangka pendek, bukan investasi jangka panjang.

Sebaliknya jika tujuannya menyimpan uang atau investasi jangka panjang, Anda bisa berinvestasi pada saham-saham yang memiliki fundamental bagus misalnya PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Jika perusahaan tersebut memiliki catatan laporan keuangan bagus, prospek bisnis bagus dan berkelanjutan, maka prospek harga sahamnya juga akan naik. Jadi Anda tidak akan merugi menaruh dana di saham dengan fundamental bagus selama bertahun-tahun.

Reksadana

Reksadana bisa menjadi titik tengah bagi Anda yang ingin berinvestasi di saham, surat utang, deposito tapi tidak memiliki pengetahuan dan skill yang cukup untuk mengelolanya. Dengan membeli reksadana, dana Anda akan dikelola oleh manager investasi yang memiliki kemampuan untuk mengembangkan dana Anda pada saham, surat utang, deposito dan instrumen investasi lainnya.

Anda bisa membeli reksadana pada perusahaan manajer investasi. Ada beberapa pilihan reksadana yang bisa diambil seperti reksadana saham, reksadana campuran, reksadana pendapatan tetap dan reksadana pasar uang. Masing-masing jenis reksadana tersebut memiliki risiko dan potensi imbal hasil yang berbeda-beda.

Reksadana saham memiliki risiko yang lebih besar ketimbang reksadana lain. Sedangkan reksadana pasar uang, relatif lebih minim risiko karena dana investasinya ditempatkan di produk deposito dan surat utang jangka pendek. Imbal hasil yang bisa diperoleh juga sejalan dengan tingkat risikonya.

Dana yang Anda tempatkan di reksadana juga dapat diambil sewaktu-waktu. Tapi tidak seperti uang di bank, dana baru bisa dicairkan sekitar satu minggu sejak diajukan. Keuntungan dari reksadana bisa mencapai 5%-30% per tahun tergantung jenis reksadananya. Untuk berinvestasi di reksadana, Anda bisa menyiapkan dana minimal Rp 100 ribu tergantung dari ketentuan masing-masing reksadana.

Surat utang

Anda juga bisa berinvestasi di obligasi atau surat utang. Untuk berinvestasi di obligasi swasta dan pemerintah, dana minimal yang dikeluarkan akan cukup besar biasanya di atas Rp 1 miliar. Jadi investasi ini lebih cocok untuk investor korporasi.

Namun investor kecil juga bisa berinvestai di surat utang ritel yang dikeluarkan oleh pemerintah seperti sukuk ritel, saving bond atau obligasi ritel Indonesia (ORI). Bunga obligasi ritel ini selalu lebih besar dari deposito. Selain itu, potongan pajaknya juga lebih kecil dari deposito.

Anda bisa membeli surat utang ritel tersebut lewat agen penjual yakni bank atau sekuritas. Meskipun bunganya tidak berselisih jauh dengan bunga deposito, namun investasi pada surat utang ritel relatif aman dan dijamin oleh pemerintah.

Happy Cuan !

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *