Menanti Kelanjutan Bisnis BlackBerry Yang Sudah Jadi Merek Indonesia

Diposting pada

Masih ingat kehebohan eksistensi BlackBerry di Indonesia pada tahun 2011? Kala itu, Kementerian Komunikasi dan Informatika terus menekan BlackBerry yang tengah berada di puncak keemasannya agar memasang filter pornografi. Jika tidak, layanan internet BlackBerry akan diblokir di Indonesia.

Saat itu, BlackBerry menjadi andalan para pengguna ponsel cerdas, karena kemampuan kompresi data sehingga akses internet dengan ponsel menjadi lebih cepat dan murah. Layanan pesan instan BlackBerry Messenger (BBM) juga merajai pasar karena belum banyak pesaing.

Selain tuntutan filter pornografi, BlackBerry juga diwajibkan membangun kantor dan bisnisnya di Indonesia. Petinggi Researh in Motion (RIM) dari Kanada sampai datang ke Indonesia untuk bernegosiasi.

Isu BlackBerry kala itu menjadi menarik karena ditengarai ada kepentingan bisnis para pesaing di belakangnya, yakni Samsung yang mengusung sistem operasi android dan iPhone yang berbasis iOS.

Lima tahun telah berlalu, kini popularitas BlackBerry sudah memudar. Sebaliknya perangkat berbasis Android semakin berkibar. iPhone dengan eksklusifitasnya juga tetap berdiri tegak.

Kabar terbaru pada 28 September 2016, BlackBerry bahkan melempar handuk dari bisnis smartphone. Lisensi ponsel dan BBM sudah dijual dan kini hanya fokus di bisnis pengembangan software. BlackBerry sudah menyerah dan keluar dari arena pertandingan.

Sebenarnya BlackBerry sudah mencoba bangkit dan mengikuti tren dengan memproduksi ponsel berbasis android yakni Priv dan DTEK50. Namun belum mampu merebut hati pengguna android.

Jauh sebelum itu, aplikasi BBM juga sudah tak lagi ekslusif bagi perangkat BlackBerry saja, tapi bisa digunakan di perangkat android. BBM masih cukup mampu bersaing di tengah persaingan bisnis layanan pesan instan yang ramai.

Tapi bisnis BlackBerry secara keseluruhan tak terselamatkan. Ini terlihat dari kinerja perusahaan yang terus terpuruk. Puncaknya pada kuartal II 2016, BlackBerry mencatat kerugian sebesar US$ 372 juta atau setara Rp 4,8 triliun. Ini yang menjadi alasan kuat, keputusan perusahaan yang sempat merajai pasar ini mengubah haluan bisnis.

http://www.whaffindonesia.com/2016/10/menanti-kelanjutan-bisnis-blackberry.html
Foto: Free Images

Kendati begitu, merek ponsel BlackBerry tak sepenuhnya lenyap dari peredaran. BlackBerry telah menjual lisensi smartphone ke perusahaan Indonesia bernama PT Tiphone Mobile Indonesia Tbk. Perusahaan ini membangun perusahaan joint venture bersama BlackBerry bernama PT BB Merah Putih.

BB Merah Putih inilah yang akan memperpanjang penggunaan merek BlackBerry pada perangkat android. Perusahaan ini bakal memproduksi ponsel di pabrik yang berada di Cikaran, Jawa Barat.

Jauh-jauh hari, lisensi BBM juga sudah berpindah tangan ke perusahaan Indonesia bernama PT Elang Mahkota Teknologi (Emtek). Perusahaan ini yang mengembangkan bisnis BBM hingga saat ini.

Indonesia memang layak di pilih BlackBerry untuk membangkitkan kembali bisnis yang telah meredup. Dengan jumlah penduduk 240 juta jiwa, negeri ini adalah pasar ideal buat produsen smartphone. Namun persaingan di bisnis smartphone juga semakin berat. Produsen-produsen baru terus berdatangan. Salah satunya Xiaomi yang mampu menjual perangkat mumpuni dengan harga jauh lebih murah.

Menarik untuk ditunggu, bagaimana kelanjutan bisnis BlackBerry setelah menjadi merek Indonesia. Apakah memiliki daya saing atau justru semakin tenggelam ditelah zaman.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *